Akhirnya sempet posting lagi setelah sekian lama tak muncul. Hemm, sebenarnya mau posting yang sedikit berbeda, tapi bingung mau nulis apa. Hehehe..
Posting kali ini, aku buat cerpen. Aku sebenarnya suka banget nulis-nulis. Awalnya, cerpen-cerpen itu aku share di fb, tapi dikarenakan aku udah mulai jarang buka-buka situs jejaring sosial itu. Makanya aku pindahin ke blog sederhana ini.
Sedikit cerita, aku ambil setting cerpen ini di negara Korea Selatan. Terinspirasi oleh seorang penulis yang suka sekali mengambil tema di negara lain. Aku akhirnya coba buat cerpen amatiran ini. Hehehe..
Selamat Membaca
I Love You Dad.. (Oneshoot)
“Appa akan dipindahtugaskan ke daerah perbatasan”, terdengar suara Appa pelan. Aku yang tengah menikmati makan malam hanya dapat terdiam mendengar pernyataan itu. Ayahku akan dipindahtugaskan kembali kali ini. Ya, ayah memang seorang prajurit angkatan darat Korea Selatan. Selama ini ayah sering ditugaskan di berbagai tempat di seluruh pelosok negeri. Aku dan Ibu sudah terbiasa dengan ketidakhadiran ayah di rumah. Ya, karena tugas itu, ayahku jarang sekali berada di rumah. Mungkin hanya pada waktu tertentu ayahku akan pulang seperti pada saat Tahun Baru seperti ini. Meskipun sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Namun, kepergian ayah kali ini agak berbeda.
“Daerah perbatasan?Bukannya sedang terjadi konflik panas di sana?”, Tanya Umma cemas. Terlihat jelas garis-garis kekhawatiran di wajahnya yang sendu. Memang, saat ini sedang terjadi konflik hebat di daerah perbatasan Negara kami dengan Korea Utara. Karena itu, pemerintah berencana menambahkan jumlah pasukan di daerah perbatasan. Dan ayah merupakan salah satu pasukan itu. Kulihat ayah tersenyum menanggapi pertanyaan ibu. Sepertinya tugas kali ini sangat berat.
“Ne, karena itulah akan ditambahkan beberapa puluh pasukan untuk mempertahankan kondisi di sana. Kalian mengijinkan Appa pergi kan?”, Tanya Appa sembari menatapku dan Umma. Kutundukkan pandanganku seraya meneruskan makan. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu karena aku tahu, Ayah akan tetap akan pergi meski kami melarang kepergiannya. Ya, sudah menjadi kewajiban seorang prajurit untuk menjalankan tugas Negara. Itu merupakan risiko yang harus ditanggung seorang abdi Negara seperti ayah dan kami sebagai orang-orang terdekatnya hanya bisa pasrah menerima itu semua.
“Ne,berangkatlah. Tidak ada gunanya aku dan Sun Hi-ah melarangmu pergi. Itu memang sudah kewajibanmu kan”, ujar Umma pelan. Aku tahu sebenarnya ibu sangat berat merelakan ayah bertugas di sana. Kami sering melihat di televisi bagaimana kerasnya konflik di sana. Tidak jarang banyak korban jiwa yang berjatuhan akaibat konflik yang masih terus berlangsung. Dan kini, ayah akan bertugas di tempat itu. Kurasakan suasana makan malam ini nampak sendu. Berita itu telah membuat suasana Tahun Baru di rumah kami berubah drastis.
“Mianhae, tapi aku memang harus pergi. Kalian tidak perlu khawatir. Ini yang terakhir kali. Appa janji”, ujar Appa perlahan seraya meneruskan makan. Mendengar penuturan ayah yang seperti itu, hatiku terasa sedih. Keberangkatan ayah kali ini merupakan ujian yang cukup berat bagi keluarga kami.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Hari ini ayah akan meninggalkan Seoul dan menuju daerah perbatasan. Aku dan ibu sengaja mengantar ayah ke markas besar di Seoul. Ternyata, hampir semua keluarga prajurit mengantar kepergian tugas kali ini. Ayah dan 69 prajurit lainnya akan bertugas selama 10 bulan di sana. Jika suasana sudah stabil, maka ayah akan diperbolehkan kembali ke Seoul. Kulihat Ibu nampak pendiam hari ini. Mungkin berat baginya untuk melepas ayah pergi ke daerah konflik seperti itu.
“Sun Hi-ah, selama Appa tidak ada, jaga ibumu baik-baik ya. Kau harus rajin-rajin membantunya, jangan main terus. Mengerti Sun Hi-ah?”, ujar Appa memberikan nasehat padaku. Aku hanya dapat menunduk seraya menahan air mata yang sudah menggenang. Beliau kemudian menghampiriku dan memelukku. Kurasakan airmata yang sedari tadi kutahan mengalir perlahan.
“Jangan menangis Sun Hi-ah, putri Appa harus kuat, tidak boleh cengeng seperti ini. Appa akan baik-baik saja di sana. Appa janji Sun Hi-ah. Appa akan pulang dengan selamat”, ujar Appa menenangkanku. Kuseka airmata yang sempat mengalir. Aku harus kuat. Aku tidak boleh mengecewakan ayah. Kucoba tersenyum meski air mata masih saja menggenang di pipi. Ayah tersenyum melihat kelakuanku. Tidak beberapa lama, setelah berpamitan padaku dan ibu, ayah berangkat menuju daerha perbatasan. Kulambaikan tangan ke arah bus yang membawa rombongan prajurit itu pergi. Appa pasti kembali, doaku dalam hati.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
“Kondisi di daerah perbatasan makin memanas. Pasukan Korea Utara kembali mengadakan penyerangan ke daerah Korea Selatan. Sempat terjadi baku tembak di antara keduanya. Korban jiwa yang jatuh di kedua belah pihak diperkirakan cukup banyak. Korban tewas terbanyak berasal dari prajurit tambahan yang baru datang beberapa bulan yang lalu”, terdengar suara penyiar di televisi sedang melaporkan kondisi terakhir di daerah perbatasan. Aku yang tengah belajar di kamar sontak saja berlari ke ruang keluarga. Kulihat Ibu nampak pucat sembari menatap layar televisi tanpa berkedip. Ya, sudah hampir 5 bulan ayah berada di sana. Selama itu, kami tidak mendapatkan kabar apapun mengenai ayah. Dan kali ini, sebuah berita menyatakan kondisi di sana begitu mencekam. Kutatap ibu dengan pandangan cemas. Bergegas ibu menelpon markas besar angkatan darat untuk menanyakan kondisi ayah. Kulihat kecemasan tergambar jelas di wajah ibu.
“Bagaimana Umma? Apakah ada kabar?”, tanyaku pelan. Ibuku menggeleng perlahan.
“Aniyo Sun Hi-ah, mereka bilang akan menghubungi kita jika ada kabar terbaru dari sana”, jawab Umma sendu. Kutangkap suaranya yang bergetar menahan takut. Airamataku kembali menggenang. Appa pasti kembali, ujarku dalam hati berkali-kali.
Suasana di perbatasan makin genting. Hampir setiap hari televisi menayangkan berita-berita mengenai kejadian di sana. Aku dan Ibu makin cemas. Kami hanya dapat berdoa setiap hari demi keselamatan ayah di sana. Berita dari markas besar sulit sekali untuk didapatkan. Tidak jarang aku menghubungi keluarga prajurit yang lain untuk mendapatkan berita terkini. Namun mereka juga tidak memiliki cukup informasi yang dapat diberikan.
“Tuhan, lindungilah Appa di sana. Lindungilah. Hamba mohon, Tuhan”, ujarku di sela-sela doaku setiap saat.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
“Sun Hi-ah, Appa tertembak”, ujar Umma menahan tangis. Beberapa saat yang lalu kami mendapat kabar dari markas besar bahwa telah terjadi penyerangan besar-besaran di daerah perbatasan. Saat itulah ayah tertembak. Mereka mengatakan bahwa dokter-dokter di sana sedang berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh ayah.Ayahku dalam kondisi kritis sekarang. Ibu yang menerima telepon itu langsung ambruk di pelukanku. Aku hanya dapat menggeleng tidak percaya atas kejadian yang terjadi.
“Aniyo, Appa pasti akan kembali Umma. Dia sudah berjanji padaku Umma. Appa akan kembali”, bisikku berkali-kali. Namun airmata makin deras mengalir di pipi.
“Tuhan, selamatkanlah Appa. Selamatkanlah dia Tuhan”, jeritku dalam hati. Tak dapat kubayangkan Appa tergeletak tak sadarkan diri akibat peluru yang bersarang di tubuhnya
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sudah genap 10 bulan sejak kepergian ayah ke daerah perbatasan. Hari ini seluruh pasukan akan kembali ke markas besar. Tidak terkecuali dengan ayahku. Semenjak kejadian penembakan itu, kami hanya mendapat kabar bahwa ayah sudah kembali baik. Aku dan ibu merasa amat lega karena ayah ternyata masih hidup. Meskipun kami tidak tahu bagaimana kondisi ayah setelah itu.
Kulirik arloji di pergelangan tangan, sudah hampir pukul 5 sore. Seharusnya rombongan pasukan itu tiba di markas besar 30 menit yang lalu. Namun, hingga saat ini tidak terlihat satu pun tanda-tanda kemunculan mereka. Semua keluarga yang menunggu nampak cemas. Mereka berharap semuanya baik-baik saja sehingga anggota keluarga mereka dapat kembali dengan selamat.
Setelah hampir 1 jam menunggu, rombongan akhirnya tiba di markas besar. Terdengar pekikan di sana-sini. Semua keluarga menyambut dengan hangat kepulangan pasukan dari daerah perbatasan. Suasana mulai kacau, semuanya sibuk mencari anggota keluarganya yang berada di dalam rombongan. Tidak terkecuali aku dan ibu, kami berjalan menerobos kerumunan seraya mencari-cari dimana ayahku berada
“Sun Hi-ah !!”, terdengar seseorang berseru memanggil namaku. Kuterobos kerumunan sembari mencari sumber suara itu. Kulihat sesosok pria setengah baya berjalan menghampiriku dengan menggunakan tongkat penyangga. Kaki kirinya nampak di balut perban dan gips. Kedua tangannya juga dibalut meskipun tidak separah kaki beliau. Meski begitu, wajahnya nampak begitu bahagia. Ya, dia ayahku. Ayahku kembali.
“Appa !!, Umma itu Appa”, ujarku sembari berlari menghampiri ayah. Kupeluk ayah dengan perlahan. Tangisku pecah. Ayah benar-benar telah kembali ke sini.
“Sun Hi-ah, Appa kembali. Kau jadi anak baik kan? Mianhae sudah menyusahkan kau dan ibumu”, ujar Appa di sela-sela tangisku. Beliau nampak begitu lelah.
“Appa, kakimu? apakah sakit sekali?”, tanyaku khawatir. Kulihat ayah berjalan pincang saat menghampiriku tadi. Tubuhnya yang kurus membuat kondisi ayah nampak memprihatinkan. Appa sudah berjuang dengan keras, ujarku dalam hati.
“Aniyo, sedang dalam masa penyembuhan . Untung Appa tidak kenapa-kenapa”, jawab Appa sembari tersenyum. Kulihat Ibu menangis melihat kondisi ayah yang sekarang ini. Namun, ibu tentu merasa sangat lega melihat ayah kini sudah kembali ke keluarga ini. Begitu juga denganku, ayahku kini sudah kembali dengan selamat. Kami sekeluarga sudah berkumpul lagi.
“Tuhan, terima kasih telah melindungi ayahku. Terima kasih Tuhan”, ucapku bersyukur di sela-sela doaku saat ini.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
The End
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar