Selasa, 21 Juni 2011

surat untuk sahabatku part 1

Mendung nampak menggelayut manja, semilir angin senandungkan melodi indah temani sepi. Hatiku berdesir, apakah tetes demi tetes air langit itu akan menyapaku saat ini. Kupandangi barisan pohon yang menari lembut, seakan mereka bersiap untuk menengadahkan tangan ketika anugrah alam itu datang. Aku kembali tersenyum, menyaksikan sepotong episode indah dari balik kacamata kelabuku.

Bayangan itu kian mendekat, nampak sesosok hawa tengah berlari menuju ke arahku. Angin mengusilinya dalam setiap jejak langkah yang ia tempuh. Jilbab putihnya berkibar, membuat sosok anggun itu begitu rapuh. Tertatih ia menghampiriku. Bibir tipisnya mengucapkan sapaan yang lembut namun menahan sedu-sedan. Kulihat ia tertegun, seperti tengah menahan beban yang begitu berat di dalam hatinya yang selama ini telah tercabik sembilu.

Kupandangi ia, tersadar bahwa sosok di depanku ini mulai bergetar saat titik-titik itu menganak sungai di wajahnya yang sendu. Duhai hawa, dia trenyuh pilu. Sudah begitu banyak angkara yang menghujatnya, sudah begitu banyak nestapa yang menyapanya tanpa kenal lelah, dan sudah begitu banyak badai-badai besar membuatnya begitu goyah untuk hanya sekedar melangkah. Ia kini tergugu.

Duhai hawa, ku mengerti bahwa jalan yang kau tempuh masih begitu panjang. Begitu pula dengan sepi dan amarah yang akan selalu menemani di setiap langkahmu meniti jalan itu. Sosok-sosok gelap itu akan selalu mengintaimu di setiap senyum yang ingin kau tebarkan pada dunia. Mulut-mulut berbisa itu akan selalu menamparimu di setiap kata yang akan kau ucapkan pada dunia. Karena mereka tak ingin melihatmu di sana duhai cintaku. Di penghabisan jalan itu, dengan jilbab yang berkibar lembut dan seuntai senyum sehangat mentari.

Tak peduli seberapa hebat mereka mencabik-cabik sanubarimu, tak peduli seberapa keras tepuk-tampar yang kini menghujanimu. Duhai hawa, ingatlah selalu bahwa dekap hangat ini selalu ada untukmu, kala kau mengeletar kedinginan ketika badai besar itu menghampirimu. Duhai hawa, ingatlah selalu senyum tulus ini akan selalu setia menemanimu, kala kau mencoba tegar dalam sepi ketika caci maki itu mulai menghujanimu. Duhai hawa, ingatlah selalu bahwa setiap detik yang kau jalani saat ini, akan selalu ada hikmah dalam setiap episodenya yang indah. Jadi, tak perlu ragu, teruslah melangkah dan gapai mimpi yang telah kau gantungkan di penghujung jalan itu.


smangadd sayangqu ^^