Jumat, 29 Juli 2011

berbicara tentang mimpi,,bagian 1

Setiap orang punya mimpi dan cita-cita. Ya, itu adalah hal lumrah dan sangat wajar. Namun,ketika seseorang melihat ke depan dan mulai melangkah menggapai mimpi-mimpinya. Itu adalah perbedaannya. Ya, mendengar beberapa kawan sejawat berhasil menjejakkan kaki di negeri orang dengan berbagai tujuan, entah sekedar ikut konferensi atau mengikuti pertukaran pelajar selama beberapa bulan ke depan. Mendengar kabar itu, hati saya langsung berdesir hebat.
Bukan apa-apa, karena mereka pergi menggapai impian di tempat yang saya idam-idamkan juga. Dibilang iri, jelas sekali. Sungguh, tak perlu disebutkan lagi bagaimana hati ini ingin sekali pergi ke negara kanguru dan negara ginseng itu. Apa daya langkah ini belum mengarah ke sana. Saya masih tertahan di sini. Menyelesaikan segala sesuatu yang sudah saya mulai di sini.
Menyesalkah ? tidak, menurut saya tak perlu ada penyesalan ketika berbicara tentang mimpi. Mungkin Tuhan belum memberikan waktu yang tepat bagi saya guna menggapai itu semua. Mungkin saya mesti berbenah diri dan menyiapkan bekal yang lebih banyak agar langkah kaki ini lebih kuat ketika melangkah menuju sana. Mimpi itu akan tetap selalu ada, tinggal bagaimana saya menyusun langkah tuk menggapainya. Tunggu saja, saya akan menjejakkan kaki di negeri itu. Ya, suatu saat.

Selasa, 21 Juni 2011

surat untuk sahabatku part 1

Mendung nampak menggelayut manja, semilir angin senandungkan melodi indah temani sepi. Hatiku berdesir, apakah tetes demi tetes air langit itu akan menyapaku saat ini. Kupandangi barisan pohon yang menari lembut, seakan mereka bersiap untuk menengadahkan tangan ketika anugrah alam itu datang. Aku kembali tersenyum, menyaksikan sepotong episode indah dari balik kacamata kelabuku.

Bayangan itu kian mendekat, nampak sesosok hawa tengah berlari menuju ke arahku. Angin mengusilinya dalam setiap jejak langkah yang ia tempuh. Jilbab putihnya berkibar, membuat sosok anggun itu begitu rapuh. Tertatih ia menghampiriku. Bibir tipisnya mengucapkan sapaan yang lembut namun menahan sedu-sedan. Kulihat ia tertegun, seperti tengah menahan beban yang begitu berat di dalam hatinya yang selama ini telah tercabik sembilu.

Kupandangi ia, tersadar bahwa sosok di depanku ini mulai bergetar saat titik-titik itu menganak sungai di wajahnya yang sendu. Duhai hawa, dia trenyuh pilu. Sudah begitu banyak angkara yang menghujatnya, sudah begitu banyak nestapa yang menyapanya tanpa kenal lelah, dan sudah begitu banyak badai-badai besar membuatnya begitu goyah untuk hanya sekedar melangkah. Ia kini tergugu.

Duhai hawa, ku mengerti bahwa jalan yang kau tempuh masih begitu panjang. Begitu pula dengan sepi dan amarah yang akan selalu menemani di setiap langkahmu meniti jalan itu. Sosok-sosok gelap itu akan selalu mengintaimu di setiap senyum yang ingin kau tebarkan pada dunia. Mulut-mulut berbisa itu akan selalu menamparimu di setiap kata yang akan kau ucapkan pada dunia. Karena mereka tak ingin melihatmu di sana duhai cintaku. Di penghabisan jalan itu, dengan jilbab yang berkibar lembut dan seuntai senyum sehangat mentari.

Tak peduli seberapa hebat mereka mencabik-cabik sanubarimu, tak peduli seberapa keras tepuk-tampar yang kini menghujanimu. Duhai hawa, ingatlah selalu bahwa dekap hangat ini selalu ada untukmu, kala kau mengeletar kedinginan ketika badai besar itu menghampirimu. Duhai hawa, ingatlah selalu senyum tulus ini akan selalu setia menemanimu, kala kau mencoba tegar dalam sepi ketika caci maki itu mulai menghujanimu. Duhai hawa, ingatlah selalu bahwa setiap detik yang kau jalani saat ini, akan selalu ada hikmah dalam setiap episodenya yang indah. Jadi, tak perlu ragu, teruslah melangkah dan gapai mimpi yang telah kau gantungkan di penghujung jalan itu.


smangadd sayangqu ^^